Tampilkan postingan dengan label apa itu arti ibadah??. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apa itu arti ibadah??. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Februari 2009

Arti Ibadah Menurut Islam (bagian 5).

09 NAFSU DAN SYAITAN PERINTANG IBADAH
DI awal buku ini telah kita uraikan bagaimana perintah beribadah itu diterima oleh akal dan fitrah murni manusia. Keduanya membenarkan tuntutan bahwa kita mesti beribadah kepada ALLAH SWT sebagaimana syariat menuntut kita berbuat demikian. Hati kecil dan akal kita begitu kuat sekali mendorong kita melakukan amal ibadah tetapi perbuatan kita masih tidak sesuai dengan kehendak hati dan akal. Mengapa bila perbuatan kita tidak mengikuti dorongan akal dan hati, tapi tidak diberi peringatan. Mengapa tidak ada bisikan di dalam hati kecil atau di dalam kepala kita bahwa perbuatan kita sudah melanggar perintah. Kita sepatutnya beribadah kepada ALLAH tetapi kita tidak lakukan.

Ada dua musuh besar manusia yang tidak jemu melalaikan hati dan nurani manusia dari ibadah kepada ALLAH. Musuh itu ialah nafsu dan syaitan.

Keduanya tidak habis-habis menghasut manusia supaya melanggar perintah ALLAH. ALLAH telah memperingatkan manusia tentang syaitan, betapa ia memusuhi manusia dalam Surah Yaasin ayat 60:

Maksudnya: "Bahwa (syaitan) itu adalah musuh kamu yang sangat nyata.”

Dan ALLAH juga memberi peringatan mengenai nafsu seperti dalam Surah Yusuf ayat 53:

Maksudnya: "Sesungguhnya nafsu itu sangat menyuruh berbuat kejahatan”

Karena syaitan dan nafsu itulah maka manusia senantiasa lalai dan tidak mengindahkan perintah ibadah kepada ALLAH. Nafsu dan syaitan itu menutup pintu hati manusia supaya jangan suka mencari ilmu dan pengetahuan tentang Islam. Sekiranya dia tidak mengerti tentang Islam maka dia tidak akan mengerti tentang ibadah. Karena itu setiap ibadahnya pasti bertentangan dengan syariat. Ketika itu syaitan akan tertawa gembira karena ‘ibadah’ menurut konsep syaitan dan nafsu berhasil dilaksanakan manusia, bukan ibadah menurut tuntutan syariat. Karena itu ada orang yang berani berkata, “ALLAH tidak akan marah karena aku sedang mencari rezeki. Bila pulang terlambat, tentulah tinggal shalat. ALLAH tahu dan kasihan padaku.” Begitu halusnya syaitan membisikkan kata-kata itu ke dalam hatinya hingga dia dapat berlindung dibalik ‘perbuatan karena ALLAH.’ Demikianlah bagaimana hati dan akal manusia dapat dipengaruhi syaitan dan nafsu. Sekiranya kedua musuh itu tidak ada, akal dan hati akan menyadarkan manusia tentang kewajiban ibadah kepada ALLAH dan akan meletakkan hati seseorang itu pada fungsinya yang sebenarnya yaitu mengingatkan manusia agar beribadah kepada ALLAH .

Ancaman syaitan dan nafsu

Sesungguhnya, syaitan dan nafsu sering menakut-nakuti manusia agar meninggalkan amal ibadah kepada ALLAH Azza wajalla. Banyak sekali bisikan-bisikan halus yang umumnya manusia tidak menyadari bahwa itu datangnya dari syaitan. Dengan bisikan-bisikan itu manusia gentar dan takut untuk beribadah kepada ALLAH. Hal itu terjadi dalam diri tetapi kita tidak menyadarinya. Coba kita perhatikan berbagai ancaman berikut.

Syaitan membisikkan kepada hati manusia, jika kamu terlalu beribadah, kamu akan menjadi miskin dan papa karena orang-orang yang berjuang untuk Islam semuanya miskin-miskin. Kalau kamu beribadah dan mengikuti semua Sunnah dan perintah Al Quran dari segi makan, minum, menyusun keluarga, menyusun hidup dan sebagainya, maka kamu akan dibenci oleh masyarakat dan kamu akan dikucilkan oleh mereka. Kamu akan dikatakan melampaui batas, fanatik dan sebagainya. Lantas kamu mungkin dapat didakwa dan dihukum karena telah membawa konsep hidup yang bertentangan dengan masyarakat, tamadun serta kebudayaan orang Islam. Karena manusia termakan dengan ancaman syaitan itu maka manusia tidak mau beribadah kepada ALLAH dalam arti kata ibadah yang sebenar-benarnya. Manusia tidak sanggup menerima susah dan ujian, lantas tidak mau beribadah kepada ALLAH dan sanggup mendurhakai ALLAH karena ancaman-ancaman halus dari syaitan dan nafsu. Kalaupun mereka beribadah, ibadahnya cuma ibarat melepaskan batuk ditangga saja, tidak dibuat dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.

10 UJIAN ALLAH
Karena dorongan syaitan dan nafsu, manusia sanggup ingkar terhadap perintah ALLAH dan ada kalanya sanggup menghina ibadah-ibadah yang ALLAH perintahkan. Sebenarnya jika syaitan dan nafsu tidak mempengaruhi manusia, semestinya manusia itu menyadari bahwa sudah menjadi sunatullah setiap manusia yang hidup di mayapada ini tidak mengira agama yang dianut, dari bangsa apa, lelaki atau perempuan, kaya atau miskin, alim atau jahil, berkuasa atau rakyat biasa, semuanya tidak akan dapat terlepas dari ujian ALLAH.

Ada berbagai ujian yang ALLAH akan berikan kepada setiap manusia. Salah satunya ialah penderitaan. Kalau pun dia tidak ditimpa penderitaan berat, dia akan ditimpa penderitaan ringan. Sakit merupakan salah satu bentuk penderitaan yang diberikan kepada manusia. Misalnya seseorang itu tidak mau sakit karena dia tahu bahwa sakit itu adalah satu jenis penderitaan dan kesusahan. Karena itu dia menjaga kesehatan badannya. Dia sering melakukan riadhah dan bangun pagi-pagi untuk melakukan joging subuh (baginya mungkin joging lebih utama dari shalat subuh), makan pil-pil vitamin untuk menjamin supaya perjalanan darahnya baik sehingga dirinya senantiasa segar dan bertenaga. Makanannya pun senantiasa makanan pilihan seperti sekian banyak zatnya, sekian banyak pemberi tenaga, tidak terlalu manis dan tidak terlalu asin pendekatannya, dia menjaga keseimbangan makanannya. Dalam keadaan dia berjaga-jaga dengan berbagai peraturan kesehatan baik dari segi riadhah maupun makanan, tidak disangka-sangka dia juga ditimpa penyakit. Kadang-kadang penyakit yang luar biasa seperti lemah jantung, darah tinggi, kencing manis dan sebagainya. Jadi kita ingin bertanya kepadanya, berhasilkah dia membuat benteng pertahanan agar tidak ditembus penyakit yang ALLAH timpakan?

Satu lagi bentuk penderitaan adalah berupa kemiskinan. Manusia memang takut dengan kemiskinan. Kalau boleh semua manusia tidak mau susah. Semua ingin senang. Perkataan miskin itu sangat memalukan. Karena itu dia mencoba memerangi kemiskinan. Dia berusaha dengan penuh semangat dan kegigihan. Dia bekerja siang dan malam mencari uang untuk mengumpulkan harta dan kekayaan. Malangnya dia tidak menyadari rencana memang ditangannya, tetapi segala-galanya ALLAH yang mengatur. Berbagai hal dapat terjadi jika memang kemiskinan itu akan ditimpakan juga oleh ALLAH. Pada saat dia sedang asyik dengan kekayaan dan hartanya itu, ALLAH datangkan bencana merenggut kekayaannya.

Satu bentuk penderitaan yang manusia tidak terfikir serta tidak menyadarinya bahwa itu merupakan ujian dari ALLAH ialah hasad dengki dan kejahatan manusia. Hal itu memang sering terjadi kepada setiap manusia yang akan ALLAH uji. Berbagai-bagai fitnah dapat ALLAH datangkan kepada manusia yang ingkar dan tidak mau patuh kepada perintahnya. Fitnah itu merupakan bala' paling besar yang dapat menimpa manusia. Itupun manusia masih mencoba melawannya karena tidak menyangka semua itu datang dari ALLAH. Senjata untuk melawan hasad dengki dan fitnah itu ialah membuat dirinya berhubungan baik dengan semua manusia. Menanam tebu dibibirnya, menabur gula di hatinya. Dia mencoba menabur budi kepada manusia agar terbina hubungan yang baik dengan orang lain. Tetapi kita sering melihat bagaimana orang yang seperti itu pun masih terkena bala dari ALLAH. Mungkin ia difitnah dengan tuduhan ingin menunjuk-nunjuk diri, ingin dikatakan berbudi, mentang-mentang dia kaya. Berbagai-bagai tuduhan manusia ke atas dirinya. Jadi sangat jelas, tidak ada siapa pun yang dapat mengelakkan diri dari penderitaan.

Satu lagi bentuk penderitaan yang sekali-sekali dapat menimpa manusia ialah bencana baik berupa bencana alam seperti banjir, kemarau, gempa, gunung berapi dan bencana alam lainnya ataupun bencana karena kelalaian manusia seperti kebakaran dan kemalangan. Bila bencana seperti itu melanda, segala harta, kampung halaman, sanak saudara akan musnah dan porak peranda. Beratus-ratus malah adakalanya beribu-ribu nyawa akan terkorban. Bencana itu akan membawa penderitaan yang berat sekali kepada manusia hingga tersiar dalam surat kabar agar manusia yang tidak ditimpa bencana membantu mereka yang malang itu.

Demikianlah hebatnya penderitaan yang ALLAH berikan. Dapatkah manusia mengelakkan diri dari penderitaan itu? Memang jika manusia itu lupa pada hakikat sebenarnya, dia mengambil langkah-langkah ciptaannya untuk memerangi bencana alam tersebut. Untuk mengelakkan dari bencana kelalaian manusia seperti kebakaran dan bencana-bencana lain, manusia diberi pengetahuan dan diajar langkah-langkah keselamatan. Untuk mengelakkan bencana alam, manusia membuat badan pengkaji cuaca supaya sebelum terjadi bencana, manusia dapat melarikan diri lebih dahulu. Tapi seringkali kita dapatkan, bencana itu datang ketika manusia tidak berjaga-jaga. Alat-alat sain dan teknologi ciptaan manusia menjadi tidak bermakna lagi.

Bencana yang paling menakutkan manusia ialah kematian. Manusia cukup takut dengan mati. Karena itu seluruh hayatnya digunakan untuk mengelakkan diri dari mati. Sakit sedikit saja, dia langsung mencari dokter untuk mendapatkan nasehat dan perawatan. Tetapi ketika dia mengambil langkah yang perlu untuk mengelakkan mati, dia akan mati juga. Dengan kematiannya tinggallah anak-anak dan isteri yang dikasihinya, sahabat, kerabatnya dan semua harta bendanya. Tentu itu merupakan satu penderitaan pahit bagi manusia karena kita sering mendengar ratapan dan rintihan manusia bila salah seorang anggota keluarga mereka mati. Kalau yang mati adalah ayah dan suami, hilanglah tempat bergantung anak dan isteri, kalau anak yang disayangi, hilanglah penghibur hati. Begitulah ratapan manusia yang melupakan perintah ALLAH. Sepatutnya dia sadar bahwa setiap musibah dan keburukan itu datangnya dari ALLAH di mana ALLAH telah memberi peringatan dalam Surah Al Baqarah ayat 155 seperti berikut:

Maksudnya: Dan sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta, serta pengikut-pengikut. Dan berikanlah kabar gembira itu kepada orang sabar (yang mukmin).

Dalam ayat berikutnya ALLAH berfirman:

Maksudnya: (Yaitu) orang-orang yang ditimpa musibah mereka mengucapkan, “Inna lillah hi wainnaa ilaihi raji’un”
(Al Baqarah: 156)

Jelaslah bahwa segala bentuk penderitaan datang dari ALLAH, dan kita dilarang meratap dan merintih seperti yang dilakukan oleh sebagian orang.

Ujian tetap akan menimpa kita, baik kita mau atau tidak mau, baik kita suka atau tidak suka, baik kita berjaga-jaga atau lalai, baik kita beribadah atau tidak, baik kita mukmin atau kafir, baik mukmin yang bertakwa atau mukmin yang ‘asi. Dalam hal itu ALLAH berfirman dalam Surah Al Baqarah ayat 155 yang diterangkan sebelum ini yang bermaksud:

“Sesungguhnya akan kami beri cobaan kepada kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan dan kekurangan harta serta pengikut dan berikan kabar gembira ini kepada orang-orang sabar (yang mukmin). “

Dan Rasulullah pun bersabda sebagai berikut:

Maksudnya: Dunia ini adalah negara bala’ dan ujian.

Kalaulah demikian sabda Rasulullah, maka tidak ada siapa pun yang dapat mengelakkan diri dari ujian. Bukankah lebih baik menjadi orang mukmin yang diuji daripada orang kafir yang diuji. Dan bukankah lebih baik menjadi orang mukmin bertakwa yang diuji ALLAH daripada menjadi orang mukmin ‘asi yang juga diuji oleh ALLAH. Orang yang bertakwa bila menerima ujian senantiasa sabar dan penuh keredhaan. Orang-orang mukmin bertakwa yang diuji dengan berbagai ujian bermakna dia mendapat penghapusan dosa di dunia dan mendapat pangkat atau derajat di syurga kelak. Tetapi bagi orang-orang kafir atau orang mukmin durhaka, ujian merupakan laknat ALLAH di dunia, dan di akhirat merupakan neraka yang amat dahsyat.

PENUTUP
TELAH panjang lebar kita menguraikan pengertian ibadah kepada ALLAH dan kita mendapatkan bukan saja syariat menuntut kita beribadah kepada ALLAH malah naluri dan akal kita pun menuntut demikian. Tanda ibadah merupakan tanda kesucian dan tanda kemurnian. Umumnya orang baik-baik berkaitan erat dengan orang ibadah tetapi tidak semestinya begitu. Jadi kalau kita mengatakan kepada seseorang bahwa saudara nampak seperti orang ibadah, hatinya tentu begitu gembira. Kalau kita mengatakan kepada seorang itu, saudara benar-benar hamba ALLAH, hati dan naluri saudara tentu sangat menyetujuinya. Dia setuju saja walaupun hakikatnya dia bukan hamba ALLAH karena hamba ALLAH ialah orang yang patuh kepada ALLAH. Manusia setuju dengan apa yang telah disetujui oleh ALLAH karena ruh manusia sewaktu di alam ruh, sebelum lahir ke dunia telah kenal ALLAH sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Maksudnya: “Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Ya, kami bersaksi bahwasanya Kamu Tuhan kami.”
( Al A’raf: 172)

Sebaliknya kalau seseorang itu kita katakan dia itu hamba dunia atau hamba perempuan, hamba isteri, hamba orang, hamba hawa nafsu dan sebagainya, dia pasti berang dan marah. Hatinya langsung tersinggung dengan kata-kata itu sekalipun sikapnya benar-benar menunjukkan dia itu bersifat demikian. Mengapa dia marah? Karena dia itu dijadikan bukan menjadi hamba perkara-perkara yang disebutkan itu. Hatinya tidak setuju dengan yang tidak disetujui oleh ALLAH. Itulah buktinya manusia itu patut beribadah kepada ALLAH Taala sesuai dengan naluri dan hati nuraninya.

Cuma yang aneh bagi kita ialah bila manusia tidak suka dengan gelar seperti itu, mangapa hal itu yang dia lakukan. Usaha-usaha, sikap-sikap dan tindak-tanduknya sesuai dengan gelar yang diberikan pada dirinya. Misalnya kalau dia diberi gelar hamba arak tentu dia marah tetapi sebenarnya memang dia hamba arak. Dan begitulah dalam hal-hal yang lain.

Sebaliknya manusia itu suka kalau ia diberi gelar sesuatu dan hatinya pun memberi persetujuan. Misalnya, seorang itu sangat senang kalau dia diberi gelar seorang hamba ALLAH, karena hamba ALLAH berarti ia taat beribadah kepada ALLAH. Tetapi sayangnya, bila dia suka dengan gelar tersebut, usaha-usahanya, tindakan serta sikapnya sama sekali tidak sesuai dengan gelar yang disukainya itu malah sikapnya bertentangan sama sekali.

Kenapa dan mengapa hal itu terjadi, semata-mata karena dorongan nafsu dan syaitan supaya manusia itu lebih terpaut dengan dunia atau hal-hal keduniaan daripada memikirkan soal-soal ibadah dan soal-soal akhirat. Karena itu ALLAH berfirman:

Maksudnya: Janganlah hidup di dunia ini menipu daya kamu.”
(Luqman: 33)

Malangnya manusia lupa dengan peringatan ALLAH itu, sebab itulah begitu banyak manusia yang ditipu oleh dunia hingga lupa beribadah kepada ALLAH. Dia mengejar dunia sekuat-kuatnya dan begitu cinta kepada dunia. Sayangnya dunia tidak diperoleh, akhirat juga lepas. Dunia tetap juga dikuasai oleh orang kafir.

Dalam konteks yang berkaitan dengan dunia, ALLAH memberi satu lagi peringatan dalam Surah Anfal ayat 28:

Maksudnya: “Bahwasanya, harta dan anak-anak kamu itu menjadi fitnah kepada kamu. “

Itulah satu lagi peringatan ALLAH yang diabaikan oleh manusia. Berapa banyak manusia hari ini yang mengejar harta siang dan malam dan berapa banyak yang mengikuti kehendak anak-anak mereka dan tidak berani membantah hingga anak mereka sendiri membawa fitnah besar dalam hidup mereka. Bukankah itu kecelakaan yang menimpa karena mereka tidak mau beribadah kepada ALLAH.

Maka ALLAH berfirman lagi

Maksudnya: ‘Sesungguhnya di antara isteri-isteri dan anak-anak kamu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah terhadap mereka.”
(At Taghabun : 14)

Keadaannya sama. Yaitu begitu banyak manusia yang mengikuti kehendak isteri. Tidak berani memberi teguran kepada isteri. Isteri lebih berkuasa dari suami. Karena itu isteri-isteri mereka menjadi fitnah kepada mereka.

Dan lagi dalam Surah Al Furqan ayat 43:

Maksudnya: “Apakah engkau tidak melihat orang yang rnenjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan.”
(Al Furqan : 43)

Di situ ALLAH menunjukkan bahwa ada manusia yang membuat hawa nafsu sebagai tuntutan hidup sehingga dia meninggalkan amal ibadahnya.


Arti Ibadah Menurut Islam (bagian 4).

07 IBADAH PEMBENTUK TAMADUN (PERADABAN) ISLAM
DARI pengertian kita mengenai ibadah yang mesti menempuh lima syarat penting yaitu niat, pelaksanaan, natijah, sah atau halalnya amalan serta tidak melalaikan amalan asas, apa yang dapat kita rumuskan?

Setelah setiap amalan yang meliputi lima syarat itu berjalan dengan baik dan dapat dianggap sebagai ibadah yang akan ALLAH beri ganjaran syurga di akhirat kelak, maka segala susunan hidup akan berjalan dengan baik dan teratur mengikuti landasan yang menuju kepada satu tujuan. Masing-masing berlomba-lomba mencapai tujuan itu dan kita jumpai masing-masing landasan tidak pernah merintangi landasan orang lain. Tidakkah itu merupakan satu tamadun Islam yang mempunyai ciri-ciri tersendiri yang semestinya dapat dianggap lebih maju dari yang dikatakan kemajuan zaman modern. Dalam keindahan nilai hidup itu, akan kita dapatkan satu masyarakat yang benar-benar berdikari tanpa menyandarkan nasib kepada manusia lain yang sering berpandangan negatif terhadap Islam.

Dalam tamadun Islam itulah akan lahir satu bentuk kebudayaan yang tersendiri, kebudayaan yang penuh disiplin serta bersatu. Masing-masing mempunyai satu rasa tanggung jawab, penuh kasih sayang yang diikat kukuh dengan pertalian iman dan Islam. Itulah yang menjadi pendorong dan landasan pembentukan tamadun Islam. Tidak dengan dipaksa atau dimasukkan ke telinga dan jiwa masing-masing dengan kata-kata bersemangat dan sebagainya. Apakah yang menjadi pegangan masyarakat yang telah terbentuk itu. Tidak lain dan tidak bukan adalah Al Quran dan As Sunnah yang menjadi undang-undang utama bagi mereka untuk merujuk segala persoalan.

Dengan berpegang kepada 2 perundangan yang disampaikan oleh ALLAH itu, dengan sendirinya mendorong manusia menegakkan sistem pendidikan dan pelajaran, menegakkan ekonomi, menegakkan negara, menegakkan jihad, menegakkan tentara dan sebagainya.

Dengan itu jelaslah bahwa tamadun dan kebudayaan Islam bukan berdiri di atas landasan tamadun atau kebudayaan orang lain. Setiap aspek ibadah dalam Islam memiliki tamadun tersendiri, bukan saduran dari ciptaan manusia. Tamadun dan kebudayaan Islam adalah ciptaan ALLAH yang cukup lengkap peraturan-peraturan dan disiplin-disiplinnya. Tidak ada satu pasal pun yang tertinggal di dalam undang-undang Al Quran yang mengharuskan manusia membuat penyesuaian dari tahun ke tahun. Tidak perlu persidangan membetulkan undang-undang. Semua bab dan semua pasal telah lengkap serta dapat bertahan sampai dunia kiamat.

Apa yang coba dilahirkan oleh umat Islam hari ini dengan bermati-matian dan bersusah payah di dalam seminar-seminar dan persidangan baik di dalam maupun luar negeri hanyalah tamadun umat Islam semata-mata yang berlainan dengan Tamadun Islam. Tamadun Islam memang sudah diciptakan di zaman Rasulullah SAW tetapi ditolak oleh umat Islam kini sehingga mereka mencoba melahirkan tamadun umat Islam. Mungkin mereka membangun tamadun umat Islam berlandaskan faham-faham kapitalisme, sosialisme, komunisme, nasionalisme dan berbagai-bagai ‘isme’ lainnya. Semua itu tidak dianggap ibadah.

Hasilnya jauh menyimpang dari tamadun Islam. Tamadun umat Islam merupakan hasil usaha akal dan hawa nafsu yang didorong oleh semangat, jiwa atau ruh orang lain yang kita pinjam, sementara itu jiwa dan ruh kita sendiri telah dirusak oleh mereka. Dengan perbuatan itu, umat Islam hanya mengembangkan dan memajukan tamadun dan kebudayaan orang lain.

Perlukah kita berbangga dengan kemajuan yang dicapai melalui proses yang bukan merupakan hasil ibadah? Dapatkah kita bangga dengan tamadun yang diciptakan oleh mereka yang tidak lagi berjiwa Islam? Kalau kita turut berbangga, artinya kita tidak kenal apa itu tamadun Islam dan apa itu kebudayaan Islam.

Kemajuan dan peradaban Islam itu adalah suatu yang suci dan murni, yang akan memberi keselamatan dan kesejahteraan kepada umat, karena dibangun oleh orang yang berjiwa suci, yang hatinya memiliki pertalian dengan ALLAH dan alam akhirat. Oleh karena itu, kita tidak mau menerima suatu kemajuan lama, yang kerap dibanggakan di dalam pertunjukan besar-besaran, pameran bertaraf dunia dan sebagainya. Kita banyak sekali keliru dengan pameran-pameran yang menunjukkan kemajuan barang-barang ukiran umat Islam, pakaian-pakaian sutera lelaki, bejana-bejana emas, perak, ukiran patung-patung atau peninggalan umat zaman silam seperti arsitektur masjid atau istana dan tiang-tiangnya, mihrabnya, kubahnya berlapis emas. Itu bukan kemajuan Islam atau peradaban Islam malah terdapat benda-benda yang haram di sisi Islam. Islam tidak mendorong membuat benda-benda seperti patung, ukiran patung dan lain-lain. Bahkan Islam melarang semua itu.

Selama ini kita telah dibuat keliru oleh sebagian umat Islam yang fikirannya telah diselewengkan oleh musuh-musuh Islam yang mengatakan bahwa setiap usaha atau kemajuan yang dicapai oleh umat Islam adalah tamadun dan peradaban Islam, walaupun bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Karena itu ada segolongan manusia yang menepuk dada, bangga dengan usaha-usaha mereka dalam menegakkan pendidikan, ekonomi atau politik dan berkata bahwa mereka telah berbakti kepada umat Islam karena bakti atau ibadah itu bukan sekedar shalat atau urusan mesjid saja. Benar, semua itu adalah ibadah. Tetapi salahnya, semua itu dilaksanakan tidak mengikut syariat Islam dan tidak berpegang kepada lima syarat ibadah itu.

Karena itu apakah hasil dari usaha yang mereka katakan ibadah itu dapat mewujudkan satu sistem dan peraturan hidup seperti yang diterangkan sebelumnya? Sayang sekali, yang terjadi pada saat ini merupakan penghinaan yang ALLAH timpakan kepada manusia disebabkan kesalahan umat Islam. Bagi mereka hasil dan sistem kemajuan tamadun itu tidak menjadi persoalan utama karena itu adalah masalah mereka yang datang kemudian.

08 IBADAH PEMBENTUK KEBUDAYAAN ISLAM
SEBAGAIMANA yang telah kita uraikan dalam Bab Ketujuh, bahwa karena manusia mengerjakan amalannya menurut syarat-syarat ibadah serta berlandaskan kepada Al Quran dan As Sunnah, maka lahirlah satu generasi tamadun Islam. Islam yang bertamadun itu tentunya mempunyai kebudayaan tersendiri. Maka di dalam bab ini marilah kita tinjau sedikit tentang apa yang dikatakan kebudayaan Islam dan bagaimana syariat mendorong pembentukan kebudayaan Islam.

Apakah Islam itu suatu kebudayaan? Begitu banyak sekali pakar kebudayaan sekarang ini menyuarakan pendapat itu. Mereka dengan lantang mengatakan bahwa Islam itu adalah kebudayaan karena merupakan satu cara hidup atau way of life. Apakah pendapat mereka benar? Marilah kita perhatikan takrif kebudayaan.

Kebudayaan itu adalah suatu hasil usaha tenaga fikiran dan tenaga lahir manusia. Kalau demikianlah takrif kebudayaan maka nyatalah bahwa syariat Islam itu bukan kebudayaan karena Islam itu bukan wujud dari hasil fikiran manusia atau bukan hasil usaha lahir manusia. Al Quran yang merupakan sumber syariat Islam bukan hasil ciptaan manusia. Islam adalah wahyu dari ALLAH SWT. Dengan itu jelaslah bahwa barang siapa mengatakan yang syariat Islam itu suatu kebudayaan, maka ia telah melakukan suatu kesalahan yang besar.

Namun demikian kita mengakui bahwa syariat Islam mendorong umat Islam berkebudayaan. Hal itu akan berhasil sekiranya segala perintah dalam Islam diamalkan mengikuti syariat dan syarat-syaratnya. Di bawah ini kita kemukakan beberapa contoh bagaimana umat Islam dengan sendirinya terdorong membentuk satu kebudayaan Islam hasil dari usaha mereka mengikuti perintah ALLAH. Firman ALLAH b‡rbunyi:

Artinya: “Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan keadaan angkuh.”
(Al Isra’: 37)

Ayat itu jelas membentuk suatu pribadi Islam yang akan menjadi satu bentuk kebudayaan di mana seluruh umat Islam tidak akan mempunyai sifat angkuh. Sebaliknya akan mempunyai sikap tawadhuk dan merendahkan diri.

Al Quran menyuruh kita memberi salam seperti dalam ayat:

Maksudnya: “Apabila kamu diberi ucapan salam, maka hendaklah kamu mengucapkan dengan sebaik-baiknya atau kembalikan dengan yang sama. “
(An Nisa’: 86)

Itulah kebudayaan Islam, yaitu suatu amalan umat Islam memberi salam ketika bertemu sesamanya. Umat Islam mempunyai satu ucapan yang murni dalam memberi salam bukan kebudayaan yang disadur seperti ‘selamat pagi’ atau ‘Hello’ dan sebagainya.

Syariat Islam menetapkan suatu bentuk pakaian wanita Islam. Syariat menyuruh wanita Islam menutup aurat seperti perintah ALLAH :

Maksudnya: Wahai Nabi, katakanlah olehmu kepada isteri-isterimu dan anak- anak perempuanmu dan perempuan-perempuan mukmin agar mereka melabuhkan jilbab mereka karena yang demikian itu hampir dikenal sebagai wanifa yang beriman, maka tidak akan diganggu dan adalah ALLAH itu Maha Pengampun dan Maha Pengasih.
(Al Ahzab : 59)

Itulah satu lagi kebudayaan Islam yang menentukan cara berpakaian wanita Islam. Berpakaian menutup aurat adalah wajib dan bukan diciptakan oleh pikiran manusia atau suatu bentuk mode seperti yang dikatakan orang banyak. Ada yang mengatakan pakaian wanita sebenarnya adalah pakaian adat yang ada pada mereka. Sungguh lantang mereka menentang perintah ALLAH!

Seterusnya ALLAH berfirman :

Maksudnya: “Bahwasanya yang mengimarahkan masjid ALLAH Taala ialah orang yang beriman dengan ALLAH dan hari akhirat, yang mendirikan shalat dan yang membayar zakat, dia tidak takut melainkan kepada ALLAH. Mudah-mudahan mereka itu termasuk orang yang mendapat petunjuk”-
(At Taubah: 18)

Dalam ayat di atas disebut perkataan Ya’muru yang maksudnya ialah ‘orang yang membangun mesjid’ dan ‘yang meramaikan mesjid’ untuk beribadah kepada ALLAH. Umat Islam yang mengikuti perintah ayat itu dan sesuai dengan syarat-syarat yang digariskan oleh syariat, maka itulah kebudayaan Islam. Mesjid itu adalah kebudayaan Islam.

Al Quran mengatakan supaya umat Islam berjalan mengembara seperti dalam ayat berikut:

Maksudnya: ‘Berjalanlah kamu di atas muka bumi”
(Al An’am: 11)

Jika sekiranya umat Islam mengikuti perintah itu dan mengembara di bumi Tuhan untuk mencari pengalaman yang baik mengikuti lima syarat ibadah, maka itu dapat dianggap sebagai kebudayaan Islam. Mengembara mencari pengalaman yang baik dan dapat memberi manfaat kepada seluruh umat Islam adalah satu kebudayaan Islam.

Umat Islam digalakkan untuk menuntut ilmu dan itu jelas sebagaimana firman ALLAH berikut ini:

Maksudnya: “ALLAH mengangkat orang yang beriman dari kamu dan mereka yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.”
(Al Mujadilah: 11)

Hal itu merupakan satu lagi bentuk kebudayaan Islam. Syariat menuntut supaya umat Islam belajar mencari ilmu, karena itu umat Islam dituntut untuk mendirikan tempat-tempat mencari ilmu (sekolah/universitas).

Mengenai hidup bermasyarakat, dalam Al Quran ada sepotong ayat yang berbunyi:

Maksudnya: "Bertolong bantulah kamu di dalam berbuat kebajikan dan ketakwaan dan janganlah kamu bertolong bantu di dalam dosa dan permusuhan. “
(Al Maidah: 2)

Jelas sekali umat Islam diajak hidup bergotong royong dan saling bantu membantu dalam semua aspek kehidupan seperti mendirikan masjid, sekolah-sekolah, rumah sakit Islam, mendirikan rumah anak-anak yatim dan sebagainya. Itulah kebudayaan Islam. Dan dalam hal itu umat Islam dilarang bekerja sama dalam dosa dan bermusuh -musuhan.Demikianlah beberapa petikan yang dapat mendorong umat Islam melahirkan suatu kebudayaan yang tersendiri. Kebudayaan itu menjadi suatu ibadah untuk umat Islam yang membangunnya. Mereka akan diberi ganjaran syurga di akhirat kelak. Di samping menjadi ibadah, juga merupakan kemajuan yang dapat memberi menafaat kepada seluruh manusia di dunia.