Selasa, 03 Februari 2009

Arti Ibadah Menurut Islam (bagian 2).

03 ASPEK-ASPEK IBADAH
Di zaman sekarang ini memang banyak kita dapatkan orang salah tafsir tentang pengertian ibadah yang sebenarnya. Kalangan mereka berpendapat bahwa ibadah itu menghendaki manusia shalat, berpuasa, menunaikan haji, berdoa dan berzikir semata-mata. Apakah hanya itu ruang lingkup pengertian ibadah? Akan terbatas segala syariat Islam sekiranya hanya itu yang meliputi bidang ibadah.

Sebenarnya ibadah mencakup setiap aspek kehidupan manusia sebagaimana yang disyariatkan dalam Islam. Itulah yang kita amalkan dalam hidup kita sehari-hari asalkan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah. ALLAH menginginkan segala yang kita lakukan dalam hidup menjadi ibadah, yaitu cara kita berpakaian, cara kita mengatur rumah tangga, bentuk perjuangan kita, pergaulan kita, percakapan dan perbincangan kita, semuanya menjadi ibadah, sekalipun kita berdiam diri juga dapat berbentuk ibadah. Di samping itu aspek-aspek lain seperti pendidikan dan pelajaran, perekonomian dan cara-cara menjalankan ekonomi, soal-soal kenegaraan dan perhubungan antar bangsa pun, semua itu perlu menjadi ibadah kita kepada ALLAH. Itulah yang dikatakan ibadah dalam seluruh kehidupan kita baik yang lahir maupun yang batin.

Corak-Corak Ibadah

Untuk uraian lebih lanjut mengenai ibadah agar dapat kita fahami lebih luas dan sesuai dengan tuntutan syariat Islam, maka di sini diuraikan tiga peringkat ibadah yang mencakup aspek kehidupan kita.
  1. Ibadah asas
  2. Ibadah cabang-cabang
  3. Ibadah yang lebih umum

Ibadah asas

Ibadah yang asas merangkum soal-soal akidah dan keyakinan kita kepada ALLAH, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari pembalasan, ketentuan dan ketetapan ALLAH baik ataupun buruk. Itulah yang kita sebut rukun iman. Termasuk dalam uraian ibadah yang asas itu ialah rukun Islam yaitu syahadat, shalat lima waktu, puasa, zakat fitrah dan rukun haji (bagi mereka yang mampu). Kedua bentuk ibadah yang asas itu yaitu rukun iman dan rukun Islam adalah wajib ain atau fardhu ain bagi setiap muallaf. Berarti sebelum kita dapat melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, kedua perkara itu perlu ada pada diri kita dan telah dapat kita tanamkan dalam jiwa kita.

Ibadah Cabang

Adapun ibadah yang menjadi cabang-cabang dari ibadah asas tadi yaitu yang bertalian erat dengan asas meliputi perkara mentajhizkan (menyelenggarakan) jenazah, menegakkan jihad, membangun gelanggang pendidikan dan pelajaran atau mewujudkan perancangan ekonomi Islam seperti mewujudkan perusahaan-perusahaan asas yang melayani keperluan umat Islam. Termasuklah di dalamnya perusahaan yang dapat menghasilkan makanan wajib seperti gula, tepung, garam, kecap dan perusahaan minuman seperti susu, kopi, teh dan bentuk-bentuk minuman ringan lainnya. Selain dari itu di dalam bidang tersebut, termasuk juga penggalakan usaha-usaha pertanian yang akan menghasilkan beberapa makanan asas bagi umat Islam seperti beras, gandum, ubi dsb. serta perikanan yang dapat menghasilkan ikan basah atau ikan kering. Kalau kita tilik dari satu sudut, pasti kita akan merasakan bahwa hal itu merupakan persoalan asas dalam perjuangan kita menegakkan ibadah kepada ALLAH. Tentulah kita tidak mau darah daging kita berasal dari zat yang bertentangan dengan syariat ALLAH, yang pasti bisa merusak ibadah asas kita.

Dalam menegakkan bentuk pendidikan dan pelajaran, kita semestinya menitikberatkan hasil mutlak dari acuan pendidikan kita pada jiwa anak-anak yang dibina mulai dari peringkat taman kanak-kanak, sekolah menengah sampai universitas. Sehingga lulusannya nanti dapat menyambung perjuangan menegakkan syariat ALLAH. Selain dari itu ibadah yang tergolong dalam cabang-cabang itu ialah membangun klinik dan rumah sakit Islam, soal-soal politik serta pembentukan dan penyusunan sistem organisasi dalam negara Islam.

Hal-hal yang termasuk dalam jenis ibadah yang kedua ini kita namakan fardhu kifayah. Kita tentu lebih maklum apa sebenarnya fardhu kifayah itu yaitu fardhu yang menitikberatkan pada soal kemasyarakatan Islam yang juga merupakan urat saraf dan nadi penghubung antara sesama Islam.

Hal itu sangat besar artinya untuk seluruh individu Islam karena bila tidak ada satu orang pun yang mengerjakannya maka seluruh masyarakat itu akan menerima beban dosa dari ALLAH. Namun seandainya a†a satu pihak melaksanakan tuntutan fardhu tersebut, maka pihak itu telah melepaskan tanggungan dosa bagi seluruh masyarakat Islam. Karena itulah fardhu kifayah merupakan urat nadi penghubung antara sesama Islam. Cuma masyarakat Islam tidak memahami peranan fardhu kifayah tersebut, karena itu hubungan ukhuwah Islamiah tidak begitu menonjol di zaman sekarang. Seandainya fardhu kifayah itu dapat memberi makna, sudah pasti kita merasa bersyukur sekiranya ada di kalangan kita yang telah melepaskan tanggungan dosa umum dan sudah pasti kita akan memberikan dukungan kepadanya. Karena itu tidak akan ada istilah gagal dalam melaksanakan fardhu kifayah.

Kecil timbangannya tetapi besar maknanya. Itulah yang disebut sunat ain. Tergolong di dalamnya yaitu shalat sunat rawatib, shalat witir, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa syawal, puasa Senin dan Kamis, bersedekah dan membaca Al Quran. Pelaksanaan ibadah itu mendatangkan pahala sedangkan jika tidak dilakukan tidak akan mendatangkan dosa. Namun karena ibadah itu memberikan manfaat maka lebih baik jika dikerjakan.

Ibadah Umum

Dan ibadah ketiga yaitu ibadah yang lebih umum yaitu hal-hal yang merupakan pelaksanaan mubah saja tetapi bisa menjadi ibadah dan mendatangkan pahala. Amalan seperti itu dapat menambah bakti kita kepada ALLAH agar setiap perbuatan dalam hidup kita ini tidak menjadi sia-sia. Tergolong dalam amalan-amalan itu seperti makan, minum, tidur, berjalan-jalan, berwisata dan sebagainya.

04 HABLUMMINALLAH DAN HABLUMMINANNAS
KITA telah mengatakan dan menguraikan tentang tiga tingkat ibadah dalam bab yang lalu. Di dalam Al Quran, ketiga peringkat ibadah yang kita bentangkan itu terbagi dengan lebih terperinci menjadi dua bagian pokok yaitu ibadah manusia yang berhubungan dengan ALLAH (hablumminallah) dan ibadah manusia yang berhubungan dengan manusia (hablumminannas). Dalam konteks ibadah itu ALLAH telah menjelaskannya dalam Al Quran:

Artinya: “Akan ditimpa kehinaan ke atas mereka itu di mana saja mereka berada melainkan yang menghubungkan diri dengan ALLAH dan menghubungkan diri dengan sesama manusia.”
(Al Imran: 112)

Peringkat ibadah yang telah kita uraikan dalam Bab Tiga dapat dimasukkan ke dalam dua bagian itu. Dalam ibadah manusia yang berhubungan dengan ALLAH kita dapatkan bentuk-bentuk ibadah yang mencakup semua bidang fardhu ain serta soal-soal akidah yang melibatkan rukun iman dan rukun Islam. Adapun ibadah manusia yang berhubungan dengan sesama manusia merupakan suatu hubungan manusia di mana antara individu itu memiliki ikatan dengan keluarga, tetangga dan masyarakat serta peranannya dalam jihad, dalam menegakkan pendidikan dan pelajaran Islam, dalam menegakkan amrun bil ma’ruf wanahyun anil mungkar. Termasuk juga peranan seorang individu itu dalam mewujudkan politik Islam, negara Islam dan hubungan internasional. Dalam bidang tersebut hablumminannas ada hubungannya dengan hukum-hukum fardhu kifayah.

Dalam menguraikan pembagian ibadah dikaitkan dengan hubungan dengan ALLAH dan hubungan dengan manusia itu, kita sebenarnya diingatkan oleh ALLAH dalam ayat yang sama, yaitu kita akan ditimpa kehinaan di mana saja kita berada jika kedua ibadah itu tidak dapat kita tegakkan. Begitulah ALLAH memberi peringatan kepada kita. Coba sejenak kita singkap tabir yang telah sekian lama mengelabui mata hati dan penglihatan kita dan renungkan seikhlas-ikhlasnya kebenaran ingatan ALLAH dalam firman-Nya itu. Apakah tidak ada unsur-unsur penghinaan yang telah ALLAH timpakan kepada manusia yang tidak memperdulikan peringatan-Nya itu?

Menegakkan hablumminallah tetapi mengabaikan hablumminannas, tetap ALLAH timpakan penghinaan. Menegakkan hablumminannas tetapi mengabaikan hablumminallah, maka ALLAH tetap menghina manusia itu. Atau menegakkan kedua-duanya tetapi pelaksanaannya tidak menurut syariat yang diperintahkan oleh ALLAH, penghinaan akan tetap menimpa.

Apakah bentuk-bentuk penghinaan yang ALLAH timpakan? Yaitu meluasnya maksiat dan kemungkaran dengan leluasa, kejahatan semakin menjadi-jadi sehingga langkah-langkah pencegahan tidak membuat perubahan, krisis moral menonjol di kalangan masyarakat, timbul perselisihan dan perkelahian yang berlanjut menjadi peperangan dan pertumpahan darah sesama manusia.

Dalam keadaan dunia yang penuh dengan berbagai gejala yang disebutkan itu, maka jelas bagi kita bahwa sudah tidak ada ketenangan lagi di dunia. Kita dapat merasakan keselamatan kita makin terancam dari masa ke masa. Yang mempunyai harta kekayaan merasa kapan saja jiwa mereka terancam, sedangkan gadis-gadis dan wanita-wanita senantiasa merasa dirinya dapat menjadi korban perkosaan dan bentuk-bentuk kejahatan dan maksiat lainnya. Bagaimana pula dengan pemimpin-pemimpin? Pikiran mereka juga senantiasa dalam keadaan terancam karena merasa ada pemimpin lain yang akan merampas kuasanya. Apabila terjadi perebutan kuasa di kalangan pemimpin, maka pertumpahan darah pasti terjadi.

Itulah gejala-gejala penghinaan yang ALLAH timpakan kepada kaum-kaum yang durhaka, yang tidak benar-benar melaksanakan perintah-Nya tentang hablumminallah dan hablumminannas. Kehidupan yang dipengaruhi oleh beraneka macam gejala itu menciptakan neraka dunia, sedangkan di akhirat akan ada satu neraka lagi yang lebih dahsyat dan hebat. Gambaran mengenai penderitaan itu ALLAH terangkan dalam Al Quran:

Artinya: “Telah lahirlah kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan oleh usaha tangan manusia itu sendiri supaya ALLAH merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”
(. Ar Rom: 41)

Tidak ada komentar: